Senin, 27 Desember 2010

Panjang Jari dan Risiko Kanker Prostat

Panjang jari ternyata bisa menunjukkan seberapa besar risiko kanker prostat yang diderita. Hasil studi Universitas Warwick dan Institut Riset Kanker di Inggris menyatakan, pria yang jari telunjuknya lebih panjang dari jari manis berisiko lebih rendah menderita kanker prostat. 

Penelitian ini juga menemukan, risiko terserang penyakit bisa turun hingga sepertiga pada pria yang lebih muda.   

’Hasil studi kami menunjukkan, ukuran jari relatif digunakan sebagai tes untuk risiko kanker prostat, terutama pada pria di bawah 60 tahun,’’ kata Ros Eeles, profesor di Institut Riset Kanker yang menjadi salah seorang penulis hasil studi ini.  

Pola jari ini bisa membantu mengidentifikasi pria mana yang harus menjalani pemeriksaan rutin. Menurut Eeles, pemeriksaan bisa dikombinasikan dengan uji genetik atau risiko lainnya seperti sejarah penyakit keluarga.  

Riset dilakukan dengan mewawancarai 1.500 penderita kanker prostat di Inggris antara tahun 1994-2009. Lebih dari separuh partisipan memiliki jari telunjuk yang lebih pendek dari jari manis.


Ternyata mereka yang berjari telunjuk lebih pendek dari jari manis atau yang jari telunjuk dan jari maninya sama panjang memiliki risiko terserang kanker prostat sama, yaitu 19 persen. Namun pada mereka yang jari telunjuknya lebih panjang, risiko terserang penyakit prostat turun menjadi 33 persen.

Hasil penelitian juga menyebutkan, sebanyak 87 persen pria di bawah 60 tahun cenderung berisiko lebih rendah menderita kanker.

Peneliti mengatakan, panjang relatif jari telunjuk dan jari manis tampaknya bisa menjadi penanda berbagai level hormon seks pada bayi yang masih berada di dalam kandungan. Kurangnya testosteron berhubungan dengan panjangnya jari telunjuk.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, testosteron mendorong pertumbuhan kanker prostat.

***

Vitamin D Baik, tapi Jangan Berlebihan

VITAMIN D diyakini mampu memerangi masalah kesehatan, termasuk depresi, kanker, asma, bahkan autisme. Namun dengan mempertimbangkan lebih dari 1.000 studi kesehatan, Institute of Medicine menegaskan bahwa asupan vitamin D yang terlalu tinggi tidak memberi manfaat bagi tubuh.

Para peneliti mengatakan, satu-satunya manfaat vitamin D dan kalsium yang telah terbukti adalah membantu tubuh terhindar dari rakhitis (pelunakan dan melemahnya tulang pada anak-anak) dan mempertahankan kekuatan tulang.

’’Untuk kesehatan tulang, angka asupan vitamin D sudah sangat baik dan bisa mencakup sebagian besar populasi. Karena kami tidak memiliki data vitamin D atau kalsium untuk manfaat yang lain, maka kami tidak dapat memberi rekomendasi,’’ kata Dr Steven Clinton dari Ohio University.

Vitamin D tidak selalu harus didapat dari suplemen. Menurut penelitian Institut of Medicine, banyak makanan pokok -termasuk roti, susu, dan produk susu lainnya- yang mengandung banyak kalsium dan vitamin D. Selain itu, tubuh juga mensintesis vitamin D setelah terpapar sinar matahari.


Para peneliti merekomendasikan asupan vitamin D sehari 700 mg untuk anak usia 1-3 tahun, 1.000 mg untuk anak usia 4-8 tahun, 1.300 mg untuk usia 9-18, dan 1.000 mg untuk orang dewasa di atas usia 19 tahun. Ibu menyusui mungkin memerlukan ekstra vitamin D, juga gadis remaja yang sebagian besar kurang kalsium. Namun bagi wanita yang telah menopause dianjurkan untuk tidak mengonsumsi suplemen kalsium terlalu banyak.

Dalam penelitian lain, Dr Glenville Jones dari Queens University di Ontario mengatakan, dosis ekstra kalsium dan vitamin D tidak membantu sama sekali. ’’Hanya ada sedikit keuntungan saat Anda mengonsumsi suplemen tambahan,’’ jelasnya.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan sejumlah studi sebelumnya. Pada 2007, D-Action Consortium, kelompok 41 peneliti vitamin D, mengatakan bahwa asupan minimal 2.000 IU (international unit) vitamin D sehari (10 kali jumlah yang disarankan pada 1997) bermanfaat untuk mengurangi insiden serangan jantung, bakteri infeksi seperti flu, dan jenis kanker tertentu.


’’Rekomendasi peningkatan asupan vitamin D merupakan langkah ke arah yang benar,’’ kata Dr Michael Holick, profesor kedokteran, fisiologi, dan biofisik Boston University.

Dia tidak setuju dengan definisi kekurangan vitamin D yang dikatakan penelitian terbaru, bahwa anak-anak membutuhkan 1.000 IU (international unit) dan orang dewasa memerlukan 2.000-3.000 IU setiap hari untuk memaksimalkan kesehatan tulang.

’’Ada banyak bukti yang mengaitkan kekurangan vitamin D dengan berbagai penyakit kronis serius termasuk penyakit autoimun, kanker mematikan, dan penyakit jantung. Saya percaya bahwa vitamin D memang memiliki manfaat kesehatan yang penting di luar kesehatan tulang,’’ tandasnya.

***
Rutin Jalan Kaki agar Tak Pikun

JIKA Anda tak ingin mudah pikun, rajin-rajinlah berjalan kaki. Sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan AS menemukan bahwa berjalan kaki sejauh tujuh kilometer secara teratur selama seminggu dapat mengurangi risiko terserang penyakit Alzheimer.

Berjalan kaki secara teratur dapat memperkuat kinerja otak pada bagian memori, yang akan sangat berguna bagi para penderita Alzheimer. Hal tersebut terbukti pada penelitian yang dilakukan Universitas Pittsburg di Pennsylvania.

Studi melibatkan 299 orang dewasa yang sehat dan 127 orang dengan penurunan fungsi kognitif ringan. Setelah berjalan kaki secara teratur selama satu minggu, para peserta penelitian dicek dengan teknik pemindaian MRI dan ditemukan adanya perbaikan volume otak pada semua peserta.

Hasil studi tersebut dipresentasikan pada pertemuan tahunan masyarakat radiologi Amerika Utara (the Radiological Society of North America-RSNA), baru-baru ini.


’’Alzheimer adalah penyakit yang merusak jaringan otak dan memakan memori secara perlahan. Sayangnya sampai saat ini belum ditemukan obat maupun penanganan untuk penyakit ini. Kami berharap penemuan kami dapat memberikan alternatif serta membantu para penderita Alzheimer,’’ kata Dr Cyrus Raji, ketua peneliti.


Raji mengakui, berjalan bukan obat penyembuh Alzheimer. Namun berjalan bisa memperbaiki daya tahan otak terhadap serangan penyakit itu dan bisa mengurangi hilangnya memori. (11) 

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar